Ka Amir 14 jam yang lalu
admin #opini

NF Bukittinggi: Tempat Lahirnya Pejuang SNBT yang Pantang Menyerah


Tepat pukul 02.00 dini hari, travel berhenti di sebuah gedung ruko yang tampak asing. Angin sejuk khas dataran tinggi menyapa wajahku pagi itu, disambut hangat oleh kolega yang telah menunggu sejak keberangkatan kami dari Jakarta. Tidak terasa perjalanan dua jam dari Bandara Internasional Minangkabau seketika hilang setelah menyaksikan siluet Gunung Marapi dan Singgalang berdiri gagah seolah mengawasi kota dengan tenang.

Awalnya, tugas ini terasa seperti sebuah tantangan. Dijauhkan dari hiruk pikuk metropolitan, menyapa lingkungan baru, dan berhadapan dengan karakter siswa yang tentu berbeda selalu membawa sedikit kegugupan. Namun, keraguan itu luntur seketika saat kakiku melangkah masuk ke cabang Bimbel Nurul Fikri Bukit Tinggi. Sapaan khas dan senyum hangat rekan-rekan pengajar serta staf menyambutku, layaknya keluarga yang sedang menyambut saudaranya pulang.


Dinamika Kelas yang Rancak Bana

Mengajar di Bukittinggi memberikan warna dan ritme tersendiri. Anak-anak di sini memiliki karakter yang memikat: kritis, lugas, pandai berdebat, dan memiliki daya juang yang luar biasa untuk merantau lewat jalur pendidikan. Di ruang-ruang kelas NF, perpaduan antara ikhtiar akademis yang keras dan nilai-nilai spiritual yang menjadi ciri khas Bimbel Nurul Fikri terasa begitu hidup.

Mengingat bulan ini merupakan program superintensif menjelang Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK-SNBT), kelas-kelas dipenuhi dengan wajah-wajah lelah namun pantang menyerah. Terkadang, celetukan bahasa Minang tak sengaja keluar di tengah sengitnya diskusi memecahkan soal. Tatapan siswa yang optimis didampingi para pengajar yang kompeten memberikan pengalaman belajar yang tidak akan didapatkan di tempat lain.

Momen-momen seperti itu selalu berhasil memancing senyumku. Membedah soal dan mengurai kebingungan mereka bukan lagi sekadar rutinitas pekerjaan, melainkan sebuah misi. Melihat mata mereka tiba-tiba berbinar saat meneriakkan, "Ooo, paham, Pak!" adalah bayaran tuntas atas suara yang hampir habis setelah seharian mengajar.


Pagi yang Hangat di Pelataran Jam Gadang: Sebuah Catatan Rasa

Tentu saja, perjalanan ini tidak melulu berkutat dengan spidol, modul, dan try out. Bukittinggi menawarkan oase yang terlalu indah untuk dilewatkan. Kota ini adalah penawar lelah yang paling mujarab.

Sebelum menyapa siswa, rutinitas favoritku adalah jogging. Dari penginapan hanya butuh 10 menit untuk sampai ke Jam Gadang atau sekadar berkeliling menatap megahnya lukisan Tuhan yang menjulang hijau menjadi benteng kota ini. Lontong sayur paku khas Padang menjadi buruan pertama dalam daftar kuliner setelah lelah berjalan, dengan segelas teh talua yang hangat memberikan dorongan tenaga untuk berbagi ilmu dengan siswa-siswi NF Bukittinggi.

Ujung-ujung, begitulah nama menu makan siang kali ini. Dibawa oleh pengajar yang ramah dari tempat makan yang cukup dikenal, makanan yang tak pernah saya temui di kota mana pun. Perpaduan gurihnya tunjang dan legitnya daging meleleh seketika di dalam mulut, berpadu nasi dengan bumbu yang kaya akan rempah, meyakinkan saya bahwa Bukittinggi bukan hanya sekadar alamnya yang digadang sebagai Parijs van Sumatera, tetapi cara masyarakat mengolah makanan pun menjelaskan sejarah panjang kota ini.


Berpamitan dengan Parijs van Sumatera: Catatan Akhir di NF Bukittinggi

Koper kecil di sudut ruang pengajar sudah tertutup rapat. Pagi ini, udara khas Parijs van Sumatera terasa menyusup sedikit lebih dingin dari biasanya melalui celah ventilasi. Aku berdiri sejenak di rooftop, menatap siluet Gunung Marapi dan Singgalang yang perlahan terang oleh semburat fajar. Seminggu berlalu rasanya sekejap mata. Waktu seolah berputar lebih cepat ketika hari-hari diisi dengan ritme yang padat, tawa, dan kehangatan yang tak terduga.

Tentu saja, cerita seminggu ini tidak akan lengkap tanpa jejak kuliner yang memanjakan lidah. Tidak ada lagi rutinitas menyeruput hangatnya teh talua dan mengunyah gurihnya katupek gulai paku, atau sekadar mencicipi bubur kampiun di pagi buta untuk mengumpulkan tenaga. Rencana-rencana makan siang yang impulsif bersama rekan menikmati nasi kapau dengan ujung-ujung, hingga berburu mi yang menonjolkan bumbu kaya rempah dan kuah kental kini harus ditunda entah sampai kapan.

Rekan-rekan staf dan pengajar di NF Bukittinggi telah membuatku merasa seperti pulang ke rumah sendiri, bukan sekadar mampir di tempat persinggahan dinas. Keramahan mereka meruntuhkan kecanggunganku sejak hari pertama.


-Munzam-

Kompetisi Ramadan1447 H: Seru Bersama NF!
Kompetisi Ramadan1447 H: Seru Bersama NF!
defaultuser.png
Ka Amir
1 bulan yang lalu
Sukses Digelar: Interregional Badminton Tournament Bimbel Nurul Fikri 2025
Sukses Digelar: Interregional Badminton Tournament Bimbel Nurul Fikri 2025
defaultuser.png
Ka Amir
9 bulan yang lalu
Menjaga Lisan Di Sosmed: Puasa Bukan Cuma Menahan Lapar, Tapi Juga Jempol
Menjaga Lisan Di Sosmed: Puasa Bukan Cuma Menahan Lapar, Tapi Juga Jempol
defaultuser.png
Ka Amir
1 bulan yang lalu
Try Out SNBT 2025 Bimbel Nurul Fikri di IETE 2025
Try Out SNBT 2025 Bimbel Nurul Fikri di IETE 2025
defaultuser.png
Ka Amir
1 tahun yang lalu
Capacity Building Pegawai Bimbel Nurul Fikri
Capacity Building Pegawai Bimbel Nurul Fikri
defaultuser.png
Ka Amir
1 tahun yang lalu