Melihat dinamika lembaga bimbingan belajar saat ini, kita harus jujur bahwa ekosistem pendidikan telah bergeser secara fundamental.
Pasca-penghapusan Ujian Nasional dan percepatan digitalisasi, kita tidak lagi berada di zona nyaman.
Bimbel Nurul Fikri, sebagaimana lembaga pendidikan lainnya, sedang berada di fase strategic inflection point-sebuah titik penentu di mana kita harus memilih untuk bertransformasi atau perlahan kehilangan relevansi.
Namun, transformasi ini tidak akan pernah terjadi jika kita hanya memperbaiki sistem tanpa menyentuh akar terdalamnya yaitu keselarasan gerak kolektif kita.
Mengambil alegori dari Vince Poscente tentang "Semut dan Gajah", kita sering menghadapi ketidaksinkronan internal yang fatal.
"Semut" adalah simbol dari strategi, visi, dan perencanaan rasional yang kita susun di ruang-ruang rapat.
Sementara "Gajah" adalah representasi dari pikiran bawah sadar, emosi kolektif, dan motivasi batin seluruh karyawan serta pengajar.
Sehebat apa pun strategi "Semut" untuk menuju oase kemajuan, langkah itu akan sia-sia jika "Gajah" di bawahnya yaitu mentalitas dan budaya kerja kita justru melangkah ke arah yang berbeda.
Penelitian psikologi menegaskan bahwa pikiran bawah sadar memiliki kekuatan jutaan kali lipat dibanding pikiran sadar.
Inilah mengapa emotional engagement menjadi kunci.
Keberhasilan kita bukan hanya soal seberapa canggih teknologi pembelajaran yang kita miliki, melainkan seberapa kuat rasa memiliki, empati, dan cinta kita terhadap proses pendidikan itu sendiri.
Jika kita ingin tumbuh bersama (growth together), maka setiap individu dari manajemen hingga lini terdepan harus menyatukan energi batinnya dengan misi besar lembaga.
Kita perlu membangun burning desire agar setiap lelah kita bernilai ibadah dan setiap inovasi kita menjadi amal jariyah.
Perubahan organisasi yang berkelanjutan hanya bisa dimulai dari perubahan diri secara personal.
Sesuai dengan nilai spiritual yang kita pegang, keberkahan kerja adalah pilar utama yang menyatukan rasionalitas profesional dengan ketulusan pengabdian.
Mari kita luruskan kembali niat dan perkuat sinergi. Saatnya kita memastikan bahwa "Semut" dan "Gajah" dalam diri kita melangkah ke arah yang sama.
Hanya dengan kesatuan visi dan emosi spiritual yang kuat, kita akan mampu melewati masa transisi ini menuju fase pertumbuhan baru yang lebih berkah dan bermakna bagi umat.
“Jangan bermimpi tentang perubahan besar bagi lembaga jika kau sendiri masih enggan mengubah niat dan mentalitas yang menghambat pertumbuhanmu.”
- Redia Sisthawan