Ka Amir 1 hari yang lalu
admin #opini

Rajin Latihan Soal atau Bertarung di Malam Terakhir? Pilih Strategi Ujian yang Tepat!


Ujian tinggal beberapa hari. Buku pelajaran masih belum banyak disentuh. Catatan menumpuk, sementara materi yang harus dipahami terasa semakin banyak. Pada kondisi seperti ini, satu strategi yang sering muncul adalah SKS atau Sistem Kebut Semalam.

Buku dibuka hingga larut malam. Puluhan soal dikerjakan sekaligus. Materi yang selama berminggu-minggu belum dipelajari berusaha dituntaskan hanya dalam beberapa jam.

Anehnya, strategi tersebut terkadang memang membuat siswa merasa lebih siap. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah belajar dengan sistem kebut semalam benar-benar efektif, atau justru latihan soal secara rutin memberikan hasil yang lebih baik?

Jawabannya tidak sekadar soal berapa lama seseorang belajar. Yang lebih penting adalah bagaimana informasi dipelajari, diingat, dan dapat digunakan kembali ketika menghadapi soal.


Latihan Soal Rutin vs SKS, Apa Perbedaannya?

Secara sederhana, latihan soal rutin berarti belajar dilakukan secara berkala dengan porsi yang relatif teratur. Siswa tidak menunggu ujian mendekat untuk mulai belajar, tetapi menyisihkan waktu setiap hari atau beberapa kali dalam seminggu untuk memahami materi dan mengerjakan soal.

Sementara itu, SKS atau Sistem Kebut Semalam merupakan pola belajar yang terkonsentrasi dalam waktu singkat, biasanya menjelang ujian atau batas pengumpulan tugas.

Keduanya memiliki tujuan yang sama: membuat siswa memahami materi dan mampu mengerjakan soal. Perbedaannya terletak pada kapan dan bagaimana proses belajar dilakukan.

Belajar rutin memberi kesempatan kepada siswa untuk membangun pemahaman secara bertahap. Sebaliknya, SKS mengandalkan intensitas belajar dalam waktu yang sangat singkat.

Di sinilah persoalannya.


Mengapa Belajar Rutin Lebih Efektif?

Belajar bukan sekadar aktivitas membaca buku selama berjam-jam. Ada proses ketika otak menerima informasi, memahaminya, menyimpannya, kemudian mengambil kembali informasi tersebut ketika dibutuhkan.

Ketika siswa belajar secara rutin, materi memiliki kesempatan untuk ditemui berulang kali.

Hari ini belajar konsep. Besok mengerjakan soal. Beberapa hari kemudian menemukan soal dengan konsep yang sama. Ketika melakukan kesalahan, siswa masih memiliki waktu untuk mencari tahu penyebabnya dan memperbaiki pemahamannya.

Proses seperti ini membuat belajar menjadi lebih aktif.

Siswa tidak hanya merasa “pernah membaca”, tetapi mulai mengetahui apakah dirinya benar-benar mampu menggunakan materi tersebut.

Misalnya, seorang siswa sedang mempelajari persamaan kuadrat. Membaca rumus mungkin hanya membutuhkan beberapa menit. Namun, memahami kapan rumus digunakan dan bagaimana menerapkannya pada berbagai bentuk soal membutuhkan latihan.

Di sinilah latihan soal rutin memainkan peran penting.


Latihan Soal Membantu Menemukan Kesalahan Lebih Cepat

Salah satu manfaat terbesar mengerjakan soal secara rutin adalah siswa dapat mengetahui bagian yang belum dikuasai.

Kesalahan yang ditemukan dua minggu sebelum ujian masih bisa diperbaiki.

Siswa dapat membuka kembali materi, bertanya kepada guru atau tentor, mencari soal sejenis, kemudian mencobanya kembali.

Situasinya berbeda jika kesalahan baru diketahui beberapa jam sebelum ujian.

Waktu untuk memperbaiki pemahaman sangat terbatas. Akibatnya, siswa cenderung menghafalkan langkah penyelesaian tanpa benar-benar memahami konsep di baliknya.

Padahal, dalam ujian, bentuk soal dapat berubah.

Soal yang diberikan mungkin tidak persis sama dengan contoh yang pernah dipelajari. Siswa yang hanya menghafal pola soal bisa mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan variasi baru.

Sebaliknya, siswa yang memahami konsep memiliki peluang lebih besar untuk beradaptasi.


Mengapa Sistem Kebut Semalam Terasa Efektif?

Menariknya, SKS tidak selalu terasa buruk bagi siswa.

Justru sebaliknya, setelah belajar berjam-jam menjelang ujian, siswa sering merasa dirinya sudah menguasai materi.

Ada alasannya.

Materi yang baru saja dibaca masih terasa sangat familiar. Rumus dan contoh soal masih berada dalam ingatan sehingga ketika melihat buku, siswa merasa, “Saya tahu ini.”

Namun, merasa familiar tidak selalu sama dengan benar-benar menguasai materi.

Kemampuan memahami materi seharusnya diuji dengan cara mencoba mengingat dan menggunakannya tanpa bantuan catatan.

Karena itu, siswa sebaiknya tidak hanya bertanya, “Apakah saya sudah membaca materi ini?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Kalau bukunya ditutup, apakah saya masih bisa menjelaskan dan mengerjakan soalnya?”

Pertanyaan sederhana tersebut dapat mengubah cara seseorang melihat proses belajar.


SKS Boleh, tetapi Jangan Dijadikan Kebiasaan

Apakah berarti siswa sama sekali tidak boleh belajar menjelang ujian?

Tentu tidak.

Belajar intensif menjelang ujian tetap memiliki fungsi. Siswa dapat menggunakannya untuk melakukan review, mengingat kembali konsep penting, mengerjakan soal simulasi, atau mengevaluasi materi yang masih lemah.

Yang menjadi masalah adalah ketika SKS menjadi satu-satunya metode belajar.

Jika setiap ujian selalu dimulai dengan pola yang sama—menunda, panik, belajar semalaman, lalu tidur sangat sedikit—siswa akan kesulitan membangun pemahaman yang kuat.

Selain itu, mengorbankan waktu tidur demi belajar semalam suntuk juga bukan strategi yang ideal.

Tubuh membutuhkan istirahat, termasuk ketika seseorang sedang mempersiapkan ujian. Karena itu, persiapan yang dilakukan jauh-jauh hari membuat siswa tidak perlu memaksakan seluruh materi masuk dalam satu malam.


Belajar Sedikit Setiap Hari Bisa Lebih Berat di Awal, tetapi Lebih Ringan di Akhir

Ada satu alasan mengapa belajar rutin sering kali sulit dilakukan.

Hasilnya tidak langsung terasa.

Mengerjakan 10 soal hari ini mungkin tampak tidak signifikan. Begitu pula belajar 30 menit setiap hari. Tidak ada sensasi “saya sudah menuntaskan banyak materi”.

Berbeda dengan SKS.

Dalam satu malam, seseorang dapat membaca banyak halaman dan mengerjakan puluhan soal. Secara visual, progresnya terlihat besar.

Tetapi belajar bukan perlombaan menghabiskan halaman.

Tujuan belajar adalah membangun pemahaman.

Sepuluh soal yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh, diperiksa, lalu dipahami kesalahannya bisa jauh lebih bermakna daripada puluhan soal yang dikerjakan terburu-buru hanya demi mengejar jumlah.


Strategi Belajar yang Lebih Efektif: Rutin + Review

Daripada mempertentangkan latihan soal rutin dengan belajar menjelang ujian, siswa sebenarnya dapat menggabungkan keduanya.

Gunakan belajar rutin sebagai fondasi, kemudian manfaatkan waktu menjelang ujian untuk melakukan review. Contohnya:

  • Setiap hari - Belajar 30–60 menit dan mengerjakan beberapa soal
  • Akhir pekan - Mengevaluasi soal yang salah
  • H-7 - Mengerjakan soal campuran dari beberapa materi
  • H-3 - Fokus pada materi yang masih lemah
  • H-1 - Review konsep penting dan kesalahan umum
  • Hari ujian - Istirahat cukup dan datang dengan kondisi siap

Pola ini jauh lebih realistis dibandingkan menjejalkan seluruh materi pada malam terakhir.

Siswa tetap memiliki waktu untuk memahami materi, menemukan kesalahan, dan memperbaikinya.


Bagaimana Membuat Latihan Soal Rutin Tidak Membosankan?

Belajar rutin tidak berarti harus duduk berjam-jam setiap hari.

Justru, salah satu cara agar kebiasaan ini bertahan adalah membuat target yang sederhana.

Misalnya, mulai dengan:

  • 10 soal matematika per hari.
  • 15 menit membaca materi sejarah.
  • 5 soal latihan bahasa Inggris.
  • Satu konsep fisika setiap sesi.
  • Mengulang kembali soal yang sebelumnya salah.

Setelah terbiasa, target dapat ditingkatkan.

Hal lain yang penting adalah mencatat kesalahan.

Jangan hanya menyimpan daftar jawaban benar. Buat catatan sederhana mengenai soal yang salah dan alasan kesalahannya.

Apakah karena lupa rumus? Salah memahami konsep? Terburu-buru membaca soal? Atau salah melakukan perhitungan?

Catatan semacam ini dapat menjadi bahan evaluasi yang sangat berharga.


Bukan Siapa yang Paling Lama Belajar, tetapi Siapa yang Paling Konsisten

Belajar enam jam dalam satu malam memang terdengar mengesankan.

Namun, enam jam tersebut belum tentu lebih efektif daripada belajar 30–45 menit secara konsisten selama beberapa hari.

Kunci utamanya adalah kualitas dan konsistensi proses belajar.

Siswa yang terbiasa belajar sedikit demi sedikit akan lebih siap ketika menghadapi ujian. Mereka tidak harus memulai dari nol ketika tanggal ujian sudah semakin dekat.

Sebaliknya, siswa yang terbiasa menunda akan menghadapi dua persoalan sekaligus: memahami materi dan mengatasi tekanan karena waktu yang semakin sempit.

Karena itu, persiapan ujian sebenarnya tidak dimulai ketika guru mengumumkan jadwal ujian.

Persiapan dimulai dari kebiasaan belajar sehari-hari.


Jadi, Mana yang Lebih Efektif?

Jika harus memilih antara latihan soal rutin vs SKS, latihan soal rutin lebih layak dijadikan strategi utama belajar.

SKS dapat digunakan sebagai pelengkap untuk melakukan review menjelang ujian, tetapi sebaiknya tidak menjadi kebiasaan utama.

Belajar rutin memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami konsep, menguji kemampuan, menemukan kesalahan, dan memperbaikinya sebelum ujian tiba.

Pada akhirnya, belajar bukan tentang siapa yang mampu bertahan paling lama di depan buku pada malam terakhir.

Belajar adalah proses membangun kemampuan sedikit demi sedikit.

Hari ini mungkin hanya 10 soal. Besok bertambah lagi. Minggu depan, soal yang dulu terasa sulit mulai bisa diselesaikan.

Dari situlah kemajuan terbentuk.

Jadi, jika ujian masih beberapa minggu lagi, jangan menunggu sampai H-1.

Ambil buku. Pilih beberapa soal. Kerjakan hari ini.

Karena kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali jauh lebih kuat daripada usaha besar yang hanya dilakukan semalam.


Bagi pelajar, kemampuan akademik tidak hanya dibangun melalui belajar lebih lama, tetapi juga melalui strategi belajar yang tepat, latihan yang konsisten, dan evaluasi terhadap kesalahan.

Di tengah tuntutan akademik yang semakin beragam, membangun kebiasaan belajar sejak dini menjadi salah satu investasi penting untuk menghadapi berbagai bentuk asesmen dan seleksi pendidikan.

Sudah berapa soal yang kamu kerjakan hari ini?


Sumber Foto: Pexels

Bijak Menggunakan Teknologi pada Masa Emas Perkembangan Anak
Bijak Menggunakan Teknologi pada Masa Emas Perkembangan Anak
defaultuser.png
Ka Amir
1 bulan yang lalu
Bimbel Nurul Fikri Kembangkan LMS Sendiri, Yuk Kita Cek Seperti Apa Itu?
Bimbel Nurul Fikri Kembangkan LMS Sendiri, Yuk Kita Cek Seperti Apa Itu?
1719768707.png
Ka Admin
2 tahun yang lalu
5 Buah Terbaik Peningkat Konsentrasi Belajar
5 Buah Terbaik Peningkat Konsentrasi Belajar
defaultuser.png
Ka Amir
4 minggu yang lalu
Menjaga Lisan Di Sosmed: Puasa Bukan Cuma Menahan Lapar, Tapi Juga Jempol
Menjaga Lisan Di Sosmed: Puasa Bukan Cuma Menahan Lapar, Tapi Juga Jempol
defaultuser.png
Ka Amir
5 bulan yang lalu
AGILE dan Adaptif: Cara Manajer Bimbel Nurul Fikri Menghadapi Tantangan Lapangan
AGILE dan Adaptif: Cara Manajer Bimbel Nurul Fikri Menghadapi Tantangan Lapangan
defaultuser.png
Ka Amir
3 bulan yang lalu