Ka Amir 21 jam yang lalu
admin #opini

Menjaga Lisan Di Sosmed: Puasa Bukan Cuma Menahan Lapar, Tapi Juga Jempol


Ramadan sering kita pahami sebagai momen menahan lapar dan dahaga. Padahal, esensi puasa jauh lebih dalam dari sekadar menahan makan dan minum. Puasa adalah latihan pengendalian diri-mengendalikan emosi, pikiran, sikap, dan di era digital, termasuk cara kita berkomentar dan berinteraksi di media sosial.

Bagi keluarga besar Bimbel Nurul Fikri, Ramadan adalah momentum peningkatan kualitas pribadi sekaligus profesional.


Puasa adalah Latihan Kendali Diri

Setiap hari selama Ramadan, kita belajar menunda keinginan. Kita menahan rasa lapar meski makanan ada di depan mata. Kita menahan emosi meski situasi memancing amarah.

Jika perut saja bisa kita kendalikan, seharusnya jempol pun bisa kita arahkan.

Media sosial hari ini menjadi ruang publik baru. Apa yang kita tulis, komentari, dan bagikan bisa dibaca banyak orang, disimpan lama, bahkan menyebar luas tanpa kita sadari.


Jempol yang Terburu-buru Bisa Melukai

Godaan di media sosial seringkali lebih berat daripada godaan lapar:

  • Membalas komentar dengan nada tinggi
  • Ikut menyebarkan informasi tanpa verifikasi
  • Terlibat perdebatan yang tidak produktif
  • Menulis sindiran saat sedang emosi

Puasa mengajarkan jeda. Sebelum mengetik, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya:

  • Apakah ini bermanfaat?
  • Apakah ini akan memperbaiki keadaan?
  • Apakah ini mencerminkan nilai yang kita pegang?

Jika jawabannya ragu, mungkin menahan diri adalah pilihan terbaik.


Sebagai Pegawai Nurul Fikri, Kita Membawa Nama Lembaga

Sebagai bagian dari Bimbel Nurul Fikri, kita bukan hanya individu biasa di ruang digital. Setiap unggahan kita, secara langsung maupun tidak, mencerminkan karakter dan nilai lembaga pendidikan yang kita wakili.

Menjaga lisan di sosmed berarti:

  • Mengedepankan komunikasi yang santun dan profesional
  • Tidak mudah terpancing isu sensitif
  • Menghindari konten provokatif
  • Menyebarkan hal-hal yang inspiratif dan edukatif

Ramadan adalah waktu terbaik untuk memperkuat budaya digital yang sehat dan beradab.


Ramadan sebagai Momentum “Detox Digital”

Selain menyehatkan tubuh, puasa juga bisa menjadi sarana membersihkan kebiasaan digital kita:

  • Mengurangi konsumsi konten negatif
  • Membatasi waktu scrolling yang tidak produktif
  • Memperbanyak konten yang menambah wawasan
  • Menggunakan media sosial untuk berbagi nilai dan inspirasi

Bayangkan jika seluruh pegawai Nurul Fikri memenuhi timeline dengan pesan positif dan membangun. Dampaknya akan jauh lebih luas daripada yang kita kira.


Penutup

Puasa bukan hanya tentang menahan lapar sampai waktu berbuka. Puasa adalah proses pembentukan karakter—menjadi pribadi yang lebih tenang, bijak, dan bertanggung jawab.

Mari jadikan Ramadan sebagai momen untuk:

  • Menahan emosi
  • Menjaga tutur kata
  • Mengendalikan jempol
  • Menjadi teladan dalam ruang digital

Semoga puasa kita bukan hanya menggugurkan kewajiban, tetapi benar-benar membentuk pribadi yang lebih santun dan profesional, baik di dunia nyata maupun di media sosial.

Hari Ini Harus Lebih Baik Dari Kemarin: Sekapur Sirih GKM
Hari Ini Harus Lebih Baik Dari Kemarin: Sekapur Sirih GKM
defaultuser.png
Ka Amir
1 bulan yang lalu
Pengalaman Tak Terlupakan : Kunjungan Kampus dan Outing Class Superchamp Bimbel Nurul Fikri di Bandung
Pengalaman Tak Terlupakan : Kunjungan Kampus dan Outing Class Superchamp Bimbel...
defaultuser.png
Ka Amir
1 tahun yang lalu
Sinkronisasi Semut dan Gajah: Ajakan untuk Tumbuh Bersama di Titik Balik Pendidikan
Sinkronisasi Semut dan Gajah: Ajakan untuk Tumbuh Bersama di Titik Balik Pendidi...
defaultuser.png
Ka Amir
1 bulan yang lalu
Target Akademik vs Target Proses: Mana yang Lebih Penting untuk Siswa?
Target Akademik vs Target Proses: Mana yang Lebih Penting untuk Siswa?
defaultuser.png
Ka Amir
1 bulan yang lalu
Try Out SNBT 2025 Bimbel Nurul Fikri di IETE 2025
Try Out SNBT 2025 Bimbel Nurul Fikri di IETE 2025
defaultuser.png
Ka Amir
1 tahun yang lalu