Ramadan sering kita pahami sebagai momen menahan lapar dan dahaga. Padahal, esensi puasa jauh lebih dalam dari sekadar menahan makan dan minum. Puasa adalah latihan pengendalian diri-mengendalikan emosi, pikiran, sikap, dan di era digital, termasuk cara kita berkomentar dan berinteraksi di media sosial.
Bagi keluarga besar Bimbel Nurul Fikri, Ramadan adalah momentum peningkatan kualitas pribadi sekaligus profesional.
Puasa adalah Latihan Kendali Diri
Setiap hari selama Ramadan, kita belajar menunda keinginan. Kita menahan rasa lapar meski makanan ada di depan mata. Kita menahan emosi meski situasi memancing amarah.
Jika perut saja bisa kita kendalikan, seharusnya jempol pun bisa kita arahkan.
Media sosial hari ini menjadi ruang publik baru. Apa yang kita tulis, komentari, dan bagikan bisa dibaca banyak orang, disimpan lama, bahkan menyebar luas tanpa kita sadari.
Jempol yang Terburu-buru Bisa Melukai
Godaan di media sosial seringkali lebih berat daripada godaan lapar:
Puasa mengajarkan jeda. Sebelum mengetik, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya:
Jika jawabannya ragu, mungkin menahan diri adalah pilihan terbaik.
Sebagai Pegawai Nurul Fikri, Kita Membawa Nama Lembaga
Sebagai bagian dari Bimbel Nurul Fikri, kita bukan hanya individu biasa di ruang digital. Setiap unggahan kita, secara langsung maupun tidak, mencerminkan karakter dan nilai lembaga pendidikan yang kita wakili.
Menjaga lisan di sosmed berarti:
Ramadan adalah waktu terbaik untuk memperkuat budaya digital yang sehat dan beradab.
Ramadan sebagai Momentum “Detox Digital”
Selain menyehatkan tubuh, puasa juga bisa menjadi sarana membersihkan kebiasaan digital kita:
Bayangkan jika seluruh pegawai Nurul Fikri memenuhi timeline dengan pesan positif dan membangun. Dampaknya akan jauh lebih luas daripada yang kita kira.
Penutup
Puasa bukan hanya tentang menahan lapar sampai waktu berbuka. Puasa adalah proses pembentukan karakter—menjadi pribadi yang lebih tenang, bijak, dan bertanggung jawab.
Mari jadikan Ramadan sebagai momen untuk:
Semoga puasa kita bukan hanya menggugurkan kewajiban, tetapi benar-benar membentuk pribadi yang lebih santun dan profesional, baik di dunia nyata maupun di media sosial.