Bulan Ramadan identik dengan kebersamaan. Salah satu momen yang paling ditunggu tentu saja buka bersama (bukber). Mulai dari bukber tim kecil, divisi, alumni, sampai komunitas luar kantor. Semuanya seru dan penuh kehangatan.
Namun realitanya, jadwal kita nggak selalu bisa mengakomodasi semua undangan. Ada yang bentrok dengan agenda keluarga, ada yang berbenturan dengan jadwal mengajar, ada juga yang memang butuh waktu istirahat agar ibadah tetap optimal.
Lalu bagaimana cara menolak ajakan bukber tanpa merasa tidak enak hati dan tanpa menimbulkan salah paham?
Yuk, kita bahas dengan sudut pandang etika dan profesionalitas.
1. Tanamkan Mindset: Menolak Bukan Berarti Tidak Menghargai
Sering kali rasa “tidak enak” muncul karena kita takut dianggap tidak solid atau kurang kompak. Padahal, dalam etika sosial dan profesional, yang penting adalah cara menyampaikan, bukan sekadar hadir atau tidak.
Kita semua punya prioritas dan keterbatasan waktu. Selama penolakan disampaikan dengan baik, itu tetap menunjukkan rasa hormat.
2. Jangan Menghilang, Beri Respons yang Jelas
Etika pertama dalam menolak ajakan adalah jangan diam. Tidak merespons undangan justru lebih berpotensi menimbulkan salah paham.
Contoh respons sederhana:
Respons yang jelas menunjukkan kita menghargai pengundang.
3. Sampaikan Alasan Secukupnya, Tidak Perlu Berlebihan
Tidak perlu menjelaskan panjang lebar sampai detail pribadi. Cukup alasan yang wajar dan profesional, misalnya:
Yang penting jujur dan tidak dibuat-buat. Kejujuran yang sederhana jauh lebih elegan daripada alasan yang berlebihan.
4. Tawarkan Alternatif (Jika Memungkinkan)
Agar tetap terasa hangat dan tidak “memutus kebersamaan”, kita bisa menawarkan alternatif:
Ini menunjukkan bahwa kita tetap ingin menjaga hubungan baik.
5. Kelola Energi, Bukan Sekadar Jadwal
Ramadan bukan hanya soal mengatur waktu, tapi juga mengatur energi. Terlalu banyak bukber bisa membuat:
Bijak memilih undangan bukan berarti anti sosial, tetapi bentuk manajemen diri agar tetap optimal dalam bekerja dan beribadah.
6. Bangun Budaya Saling Memahami
Sebagai keluarga besar Bimbel Nurul Fikri, penting untuk membangun budaya:
Kompak itu bukan berarti selalu hadir di semua acara, tapi saling mendukung dalam peran masing-masing.
Penutup
Bukber adalah momen yang indah untuk mempererat ukhuwah dan kebersamaan. Namun menjaga keseimbangan antara kerja, keluarga, dan ibadah juga bagian dari tanggung jawab kita.
Menolak ajakan bukber dengan sopan bukanlah sikap yang salah. Justru itu menunjukkan kedewasaan dalam mengelola waktu dan energi.
Semoga Ramadan kali ini membuat kita bukan hanya lebih sering berkumpul, tetapi juga lebih bijak dalam memilih prioritas.
Semoga bermanfaat untuk kita semua di keluarga besar Bimbel Nurul Fikri.