Ramadan hampir mencapai garis akhirnya. Bagi banyak orang, bulan ini dipenuhi dengan semangat ibadah: masjid menjadi ramai, tilawah Al-Qur’an meningkat, sedekah bertambah, dan berbagai kebaikan dilakukan dengan penuh antusias. Namun Islam mengajarkan satu pelajaran penting: yang paling menentukan bukan hanya awal yang baik, tetapi bagaimana akhirnya.
Rasulullah ﷺ mengingatkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa seseorang bisa saja melakukan amalan ahli surga sepanjang hidupnya hingga jaraknya dengan surga tinggal sehasta lagi. Namun karena takdir yang menimpanya di akhir hayat, ia justru melakukan amalan ahli neraka sehingga berakhir di dalamnya.
Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ juga menceritakan kisah seorang pejuang yang tampak sangat gagah berani di medan perang. Ia berperang melawan kaum musyrikin dengan keberanian luar biasa. Namun karena luka parah yang ia alami, ia kemudian mengakhiri hidupnya sendiri. Rasulullah ﷺ pun bersabda bahwa orang tersebut termasuk penghuni neraka.
Dari peristiwa ini Rasulullah ﷺ memberikan pelajaran penting:
“Sesungguhnya ada seorang hamba yang menurut pandangan manusia melakukan amalan penghuni surga, namun ia termasuk penghuni neraka. Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan manusia melakukan amalan penghuni neraka, namun ia termasuk penghuni surga. Sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupnya.”
(HR. Bukhari no. 6493)
Pesan ini mengingatkan kita bahwa nilai amal tidak hanya diukur dari seberapa banyak yang dilakukan, tetapi juga dari bagaimana seseorang mengakhiri perjalanan amalnya.
Para ulama juga memberikan penekanan yang sama. Imam Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan bahwa baik atau rusaknya suatu amal, diterima atau tidaknya oleh Allah, sangat bergantung pada bagaimana akhirnya.
Sementara itu Imam Ath-Thibrizi menegaskan bahwa amal yang telah berlalu bukanlah yang paling menentukan. Yang paling diperhatikan adalah amal yang menjadi penutupnya. Karena itu, seorang muslim dianjurkan untuk terus menjaga ketaatan dan menjauhi maksiat, sebab tidak ada yang tahu amal apa yang akan menjadi amal terakhirnya.
Bagi keluarga besar Bimbel Nurul Fikri, pesan ini sangat relevan terutama di penghujung Ramadan. Setelah hampir sebulan kita berusaha meningkatkan kualitas ibadah—shalat lebih terjaga, tilawah lebih rutin, sedekah lebih banyak—maka jangan sampai semangat itu justru melemah di hari-hari terakhir.
Justru sebaliknya, akhir Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk berlari lebih kencang dalam ketaatan. Memperbanyak tilawah, memperbaiki shalat, meningkatkan doa, dan memperkuat rasa rindu kepada bulan penuh berkah ini.
Sikap yang tepat ketika Ramadan akan berpisah bukanlah kegembiraan karena bebas dari kewajiban puasa, tetapi rasa haru dan kerinduan karena belum tentu kita dipertemukan kembali dengan Ramadan berikutnya.
Oleh karena itu, mari kita menutup Ramadan dengan amal terbaik yang kita mampu. Menjaga hati dari rasa bangga terhadap amal yang telah dilakukan, sekaligus terus memohon kepada Allah agar semua amal yang telah kita lakukan diterima.
Semoga Allah menutup Ramadan kita dengan kebaikan, menerima seluruh amal ibadah kita, dan menjadikan Ramadan ini sebagai titik awal kehidupan yang lebih taat setelahnya.
Karena pada akhirnya, yang menentukan bukan bagaimana kita memulai, tetapi bagaimana kita mengakhirinya.