Hari ini Jumat. Biasanya, sore seperti ini diisi dengan napas lega karena akhir pekan sudah di depan mata. Tapi jujur saja, bagi kamu yang sedang menunggu tanggal 25 Mei nanti, atmosfernya pasti terasa beda sekali. Ada rasa mengganjal di dada yang susah diusir, kan?
Tinggal tiga hari lagi. Tiga. Angka yang pendek, tapi rasanya bakal berjalan lambat sekali kalau kita cuma duduk diam sambil memandangi gawai.
Sadar atau tidak, kita ini sering kali menyiksa diri sendiri di waktu-waktu krusial seperti sekarang. Membuka media sosial, lalu melihat orang lain membagikan prediksi kelulusan, atau membaca spekulasi tentang "katanya sistem tahun ini begini dan begitu". Padahal, kalau dipikir ulang menggunakan akal sehat, apa gunanya? Semua data sudah dikunci di server pusat. Nilai ujianmu sudah ada di sana, diam, tinggal menunggu tombol 'buka' ditekan hari Senin nanti.
Nah, di sinilah momentum hari Jumat ini jadi sangat berharga. Bukan sekadar hari penutup pekan, tapi karena ada jeda spiritual yang sayang banget kalau dilewatkan begitu saja.
Daripada energi kita habis dipakai buat cemas yang sama sekali tidak mengubah keadaan, bagaimana kalau kita ubah arah kemudinya? Pindahkan fokus dari yang tadinya sibuk "memikirkan hasil", menjadi sibuk "mengetuk pintu langit".
Hari Jumat memiliki ruang-ruang waktu yang mustajab untuk berdoa. Salah satunya yang banyak disepakati adalah di waktu menjelang matahari terbenam, persis di penghujung hari seperti sekarang. Coba taruh dulu ponselmu. Matikan dulu notifikasi grup obrolan yang isinya cuma bikin deg-degan.
Gunakan waktu beberapa menit sebelum maghrib ini untuk benar-benar bicara jujur pada-Nya.
Sampaikan kalau kamu cemas. Akui kalau kamu takut. Lalu, susul dengan kalimat kepasrahan yang total. Ingat lagi momen-momen saat kamu harus bangun pagi, pulang larut, dan coret-coretan kertas try out yang menumpuk di meja belajar. Katakan pada-Nya, "Ya Allah, ikhtiar bumiku sudah selesai di ruang ujian kemarin. Sekarang, aku titipkan hasilnya pada-Mu."
Kalimat pasrah seperti itu, kalau diucapkan dengan tulus dari hati yang paling dalam, efeknya luar biasa menenangkan. Menangislah kalau memang itu bisa mengurangi sesak di dada. Itu jauh lebih sehat daripada kamu terus-menerus menahan stres sendirian.
Lolos atau belum lolos di hari Senin nanti, itu urusan nanti. Lagipula, masa depanmu terlalu besar kalau hanya diukur dari satu pengumuman saja. Tugasmu sore ini adalah memastikan bahwa hatimu lapang dan siap memeluk apa pun skenario yang akan datang. Karena percaya deh, ketetapan-Nya tidak pernah salah alamat, dan selalu ada jalan bagi mereka yang tidak berhenti berharap.
Tarik napas dalam-dalam, embuskan pelan. Selamat memasuki akhir pekan dengan hati yang lebih tenang. Biarkan doa-doa terbaikmu melesat ke langit sore ini.