Memasuki 10 malam terakhir Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk semakin meningkatkan ibadah. Pada fase inilah terdapat malam yang sangat istimewa, yaitu Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Banyak orang berusaha menghidupkan malam-malam ini dengan berbagai ibadah seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa.
Namun bagi sebagian orang, terutama sebagai pegawai Bimbel Nurul Fikri yang tetap harus bekerja di siang hari, menjaga semangat ibadah di 10 malam terakhir sering menjadi tantangan. Rasa lelah setelah aktivitas kerja, keterbatasan waktu istirahat, serta kewajiban keluarga sering membuat ibadah malam terasa berat. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang bijak agar tetap bisa memaksimalkan ibadah tanpa mengganggu kesehatan dan tanggung jawab pekerjaan.
Pertama, atur prioritas ibadah yang konsisten.
Tidak harus melakukan semua amalan sekaligus dengan durasi yang sangat panjang. Pilih beberapa amalan utama seperti shalat tarawih, witir, membaca Al-Qur’an, dan doa. Konsistensi lebih penting daripada memaksakan diri beribadah terlalu lama namun hanya bertahan satu atau dua malam.
Kedua, manfaatkan waktu setelah tarawih dan sebelum tidur.
Bagi pegawai yang harus bangun pagi, waktu setelah tarawih bisa dimanfaatkan untuk membaca Al-Qur’an atau berzikir sekitar 20–30 menit. Setelah itu, beristirahatlah agar tubuh tetap bugar untuk bekerja keesokan harinya.
Ketiga, bangun lebih awal untuk qiyamul lail.
Daripada begadang terlalu lama, strategi yang lebih sehat adalah tidur lebih awal lalu bangun sekitar 30–45 menit sebelum sahur. Waktu ini dapat digunakan untuk shalat tahajud, berdoa, dan memohon ampun kepada Allah. Inilah waktu yang sangat mustajab untuk berdoa.
Keempat, hidupkan ibadah di sela aktivitas harian.
Meskipun bekerja, peluang ibadah tetap terbuka. Pegawai bisa memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an beberapa halaman saat waktu istirahat, atau mendengarkan tilawah ketika perjalanan menuju kantor. Ibadah tidak selalu harus panjang, tetapi bisa dilakukan secara berkesinambungan sepanjang hari.
Kelima, saling menguatkan dalam lingkungan kerja.
Di lingkungan Bimbel Nurul Fikri, semangat Ramadan dapat dijaga melalui saling mengingatkan dan memotivasi antarpegawai. Misalnya dengan membuat target tilawah bersama, saling berbagi inspirasi ibadah, atau mengadakan kegiatan Ramadan seperti program berbagi dan kajian singkat.
Pada akhirnya, 10 malam terakhir Ramadan adalah kesempatan yang sangat berharga yang tidak selalu datang setiap tahun dalam kondisi yang sama. Dengan manajemen waktu yang baik, para pegawai Bimbel Nurul Fikri tetap dapat menjalankan tugas pekerjaan secara profesional sekaligus memaksimalkan ibadah.
Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita semua untuk menghidupkan 10 malam terakhir Ramadan dengan penuh keikhlasan, serta mempertemukan kita dengan keberkahan Lailatul Qadar. Aamiin.