Kabar NF – Proses belajar yang efektif ternyata tidak hanya bergantung pada kualitas materi yang diajarkan. Di balik keberhasilan seorang siswa memahami pelajaran, terdapat satu faktor yang sering luput dari perhatian: bagaimana otak bekerja ketika menerima informasi.
Kesadaran inilah yang mendorong Divisi Pendidikan Bimbel Nurul Fikri menyelenggarakan Seminar Neuroscience: Adaptasi Teknik Pomodoro untuk Pedoman Guru Berbasis Neuroscience Sesuai Tahapan Perkembangan Siswa, yang berlangsung pada Rabu, 15 Juli 2026, di NF Taman Margasatwa. Kegiatan ini diikuti sekitar 60 pegawai Divisi Pendidikan secara hybrid, baik hadir langsung maupun melalui platform daring.
Seminar ini menghadirkan pakar spesialis di bidangnya, dr. Dion Firli Bramantyo, Sp.Onk.Rad, Subsp.KLSSP (K), sebagai pembicara utama yang merupakan alumni Bimbel Nurul Fikri. Kehadiran beliau menjadi bagian penting dari upaya Bimbel Nurul Fikri untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pendekatan yang didasarkan pada hasil riset ilmiah mengenai perkembangan otak manusia.
Seminar ini menjadi bagian dari upaya Bimbel Nurul Fikri untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pendekatan yang didasarkan pada hasil riset ilmiah mengenai perkembangan otak manusia.
Mengapa Neuroscience Penting bagi Guru?
Selama ini, banyak metode belajar menggunakan pola yang sama untuk semua siswa. Padahal, anak SD, SMP, hingga SMA memiliki kemampuan fokus, kapasitas memori kerja, serta perkembangan fungsi otak yang berbeda.
Perbedaan tersebut membuat strategi mengajar tidak bisa disamaratakan.
Melalui seminar ini, para peserta diajak memahami bagaimana attention span, working memory, cognitive load, dan executive function memengaruhi keberhasilan proses belajar. Pemahaman tersebut diharapkan menjadi bekal bagi guru dalam menentukan durasi pembelajaran, waktu jeda, hingga variasi aktivitas yang sesuai dengan usia peserta didik.
Teknik Pomodoro Tidak Selalu Harus 25 Menit
Salah satu materi utama dalam seminar adalah pembahasan mengenai Teknik Pomodoro.
Selama ini, teknik manajemen waktu tersebut identik dengan pola belajar 25 menit fokus dan 5 menit istirahat. Namun, pendekatan neuroscience menunjukkan bahwa durasi tersebut belum tentu ideal untuk seluruh kelompok usia.
Siswa sekolah dasar memiliki rentang perhatian yang lebih pendek dibandingkan siswa SMA. Demikian pula kebutuhan brain break, aktivitas transisi, maupun variasi pembelajaran akan berbeda sesuai tahap perkembangan otak.
Karena itu, seminar ini mengangkat tema adaptasi Teknik Pomodoro agar penerapannya lebih relevan dengan karakteristik neurologis setiap jenjang pendidikan.
Menyusun Pedoman Mengajar Berbasis Neuroscience
Lebih dari sekadar seminar, kegiatan ini diarahkan untuk menghasilkan pedoman praktis yang dapat diterapkan di lingkungan Bimbel Nurul Fikri.
Beberapa keluaran (output) yang ditargetkan antara lain:
Dengan adanya panduan tersebut, guru diharapkan memiliki acuan yang lebih ilmiah dalam merancang pengalaman belajar yang efektif sekaligus menyenangkan.
Belajar Mengikuti Cara Kerja Otak
Neuroscience mengajarkan bahwa belajar bukan sekadar menghafal materi. Otak membutuhkan ritme kerja yang seimbang antara periode fokus, waktu istirahat, stimulasi, serta aktivitas yang mampu menjaga perhatian tetap optimal.
Ketika guru memahami cara otak memproses informasi, pembelajaran tidak lagi hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga pada bagaimana siswa mampu menyerap, mengingat, dan menerapkan pengetahuan secara lebih efektif.
Pendekatan inilah yang menjadi arah pengembangan pembelajaran di Nurul Fikri.
Komitmen Bimbel Nurul Fikri Meningkatkan Kualitas Pembelajaran
Sebagai lembaga pendidikan yang terus berinovasi, Bimbel Nurul Fikri memandang peningkatan kompetensi guru sebagai investasi jangka panjang.
Melalui seminar ini, Divisi Pendidikan tidak hanya memperkaya wawasan tenaga pendidik mengenai neuroscience, tetapi juga mulai merancang standar pembelajaran yang lebih adaptif terhadap perkembangan peserta didik.
Harapannya, setiap guru mampu menciptakan suasana belajar yang lebih fokus, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan otak siswa di setiap jenjang pendidikan.