Televisi Republik Indonesia (TVRI) genap berusia 64 tahun pada Senin, 24 Agustus 2026. Lebih dari enam dekade perjalanan telah dilalui oleh stasiun televisi tertua di Tanah Air ini, mulai dari menyapa pemirsa lewat layar hitam-putih hingga kini mentransformasi jaringan siarannya ke platform siaran digital dan konten multi-platform.
Peringatan HUT ke-64 ini bukan sekadar penanda bertambahnya usia lembaga penyiaran nasional, melainkan juga momentum penting untuk merefleksikan peran media dalam mendukung pendidikan, menyampaikan informasi kredibel, dan merawat keberagaman budaya bangsa.
Tahun ini, TVRI mengusung tema “Satu Layar, Sejuta Cerita”. Tema tersebut merefleksikan rekam jejak TVRI yang selama puluhan tahun mengabadikan dinamika sosial, pendidikan, dan sejarah dari berbagai sudut Nusantara.
Berawal dari Asian Games 1962
Sejarah TVRI tidak terpisahkan dari penyelenggaraan Asian Games IV di Jakarta pada 1962. TVRI resmi berdiri dan mengudara pada 24 Agustus 1962 dengan menyiarkan secara langsung upacara pembukaan ajang olahraga tersebut dari Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Berdasarkan catatan sejarah PPID TVRI, sebelum memasuki era siaran reguler, TVRI sempat melakukan siaran percobaan saat peringatan Hari Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1962. Kehadiran teknologi visual saat itu menjadi tonggak sejarah baru dalam penyiaran nasional.
Seiring berjalannya waktu, TVRI terus beradaptasi mengikuti lompatan teknologi—beralih dari siaran hitam-putih, siaran berwarna, hingga era digitalisasi modern saat ini.
Televisi, Media Publik, dan Dunia Pendidikan
Bagi dunia pendidikan, keberadaan media publik memiliki arti yang sangat strategis. Televisi bukan sekadar sarana hiburan, tetapi juga medium pembelajaran visual yang mampu memperluas wawasan siswa di luar ruang kelas.
Melalui tayangan bermutu seperti dokumenter sejarah, program sains, eksplorasi budaya, dan pendidikan karakter, media dapat memantik rasa ingin tahu serta memperkuat literasi generasi muda.
Di era disrupsi digital, tantangan terbesar pelajar bukan lagi kesulitan mencari informasi, melainkan memilah informasi yang benar dan bermanfaat. Media publik yang kredibel menjadi benteng penting dalam menjaga kualitas literasi masyarakat.
Tantangan Era Digital dan Tantangan Literasi
Memasuki era digital, pola konsumsi media masyarakat telah bergeser secara signifikan. Kehadiran telepon pintar, media sosial, dan platform streaming membuat generasi muda memiliki kendali penuh atas konten yang ingin mereka saksikan.
Kondisi ini menuntut media televisi konvensional untuk terus berinovasi. Persaingan media saat ini bukan lagi sekadar adu cepat menyampaikan berita, melainkan bagaimana menghadirkan konten yang akurat, relevan, dan edukatif.
Di tengah derasnya arus disinformasi dan hoaks di media sosial, peran media publik yang memegang teguh etika penyiaran menjadi kian krusial sebagai jembatan informasi yang tepercaya bagi pelajar dan keluarga Indonesia.
Menatap Masa Depan Penyiaran Publik
Rangkaian peringatan HUT ke-64 TVRI tahun ini diisi dengan berbagai kegiatan kebersamaan dan bakti sosial. Melewati perjalanan 64 tahun tentu bukan hal yang singkat, dan tantangan utamanya kini adalah bagaimana tetap relevan bagi generasi muda tanpa kehilangan nilai-nilai edukatifnya.
Sesuai semangat “Satu Layar, Sejuta Cerita”, TVRI diharapkan terus berkembang menjadi media yang mencerahkan, menginspirasi, dan konsisten menyajikan tayangan yang mendukung kemajuan pendidikan Indonesia.
Selamat Hari Ulang Tahun ke-64 TVRI. Semoga terus hadir membawa informasi yang berkualitas, hiburan yang bernilai, dan inspirasi bagi generasi penerus bangsa!