Di era digital seperti sekarang, berbicara tidak lagi terbatas pada ucapan yang keluar dari mulut. Setiap tulisan di media sosial, komentar di grup percakapan, unggahan status, hingga pesan singkat yang kita kirimkan juga termasuk bagian dari lisan yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.
Banyak permasalahan muncul karena seseorang tidak mampu menjaga lisannya. Persahabatan rusak karena gosip, keluarga retak karena ucapan kasar, bahkan reputasi seseorang dapat hancur hanya karena satu kalimat yang tidak dipikirkan terlebih dahulu.
Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap adab berbicara. Sebab lisan merupakan salah satu nikmat Allah yang dapat menjadi jalan menuju kebaikan, namun juga dapat menjadi penyebab kebinasaan apabila tidak dijaga dengan baik. Oleh karena itu, menjaga lisan termasuk bagian penting dari akhlak seorang muslim terhadap dirinya sendiri.
Mengapa Menjaga Lisan Sangat Penting?
Lisan adalah cerminan hati. Apa yang diucapkan seseorang sering kali menggambarkan isi pikirannya. Karena itulah Rasulullah SAW mengajarkan agar seorang mukmin selalu berhati-hati dalam berbicara.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”
Hadis ini mengandung prinsip sederhana namun sangat mendalam. Sebelum berbicara, seorang muslim hendaknya bertanya kepada dirinya sendiri: apakah ucapan ini akan membawa manfaat atau justru mudarat? Jika tidak ada kebaikan di dalamnya, maka diam menjadi pilihan yang lebih baik.
1. Senantiasa Berkata Baik
Ucapan yang baik mampu menenangkan hati, mempererat persaudaraan, dan menjadi amal kebaikan yang bernilai pahala. Sebaliknya, ucapan buruk dapat melukai perasaan orang lain dan meninggalkan bekas yang sulit dihilangkan.
Berkata baik bukan berarti selalu memuji. Berkata baik berarti menyampaikan sesuatu dengan jujur, santun, dan membawa manfaat. Bahkan ketika harus menegur atau mengoreksi kesalahan orang lain, Islam mengajarkan agar hal itu dilakukan dengan cara yang lembut dan penuh hikmah.
2. Menjauhi Perkataan yang Tidak Bermanfaat
Salah satu ciri orang beriman adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berguna.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman... dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna.” (QS. Al-Mu’minun: 1–3)
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.”
Dalam kehidupan pelajar, perkataan yang tidak bermanfaat dapat berupa bergosip, membicarakan hal sia-sia secara berlebihan, menyebarkan rumor, atau menghabiskan waktu untuk perdebatan yang tidak menghasilkan kebaikan.
3. Tidak Berbicara Berlebihan
Islam tidak melarang seseorang berbicara banyak, tetapi melarang pembicaraan yang berlebihan tanpa manfaat.
Rasulullah SAW bersabda bahwa terlalu banyak berbicara tanpa mengingat Allah dapat mengeraskan hati.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memberikan perumpamaan yang sangat menarik:
“Perkataan itu bagaikan obat, jika sedikit bermanfaat dan jika banyak mematikan.”
Pelajaran penting bagi siswa adalah belajar berbicara secukupnya, tidak mendominasi pembicaraan, dan mampu mendengarkan orang lain dengan baik.
4. Menjauhi Pembicaraan Batil
Pembicaraan batil adalah pembicaraan yang tidak memiliki manfaat, mengandung kebohongan, atau menjauhkan manusia dari kebaikan. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan:
“Orang yang paling besar dosanya pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak melibatkan diri dalam pembicaraan yang batil.”
Di zaman media sosial, pembicaraan batil sering muncul dalam bentuk perdebatan tidak sehat, penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya, atau candaan yang merendahkan orang lain.
5. Tidak Berkata Keji, Kotor, dan Mencaci
Seorang mukmin dikenal dari kemuliaan tutur katanya. Rasulullah SAW bersabda:
“Bukanlah seorang mukmin orang yang suka mencela, gemar melaknat, berkata keji dan berkata kotor.”
Sayangnya, kata-kata kasar sering dianggap biasa dalam pergaulan remaja. Padahal kebiasaan tersebut dapat mengurangi kemuliaan akhlak dan membentuk karakter yang buruk.
Menjadi pribadi yang santun dalam berbicara bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kedewasaan dan kekuatan akhlak.
6. Tidak Berdusta dan Mengingkari Janji
Kejujuran merupakan fondasi kepercayaan. Sekali seseorang dikenal sebagai pendusta, maka sulit baginya memperoleh kepercayaan dari orang lain.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa salah satu ciri kemunafikan adalah ketika berbicara ia berdusta dan ketika berjanji ia mengingkari janjinya.
Bagi pelajar, kejujuran harus dibiasakan dalam segala hal, mulai dari mengerjakan tugas, mengikuti ujian, hingga berinteraksi dengan teman dan guru.
7. Menjauhi Ghibah (Menggunjing)
Ghibah adalah menyebutkan sesuatu tentang saudara kita yang tidak disukainya, meskipun hal tersebut benar adanya. Allah SWT berfirman:
“Janganlah menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?” (QS. Al-Hujurat: 12)
Ketika Rasulullah SAW ditanya tentang ghibah, beliau menjelaskan bahwa menyebutkan kekurangan saudara yang tidak disukainya termasuk ghibah. Jika apa yang disebutkan tidak benar, maka itu menjadi fitnah yang dosanya lebih besar lagi.
Di lingkungan sekolah, ghibah sering muncul dalam bentuk membicarakan teman di belakangnya, menyebarkan aib, atau mengomentari kekurangan orang lain.
8. Tidak Mencela dan Memaki
Islam mengajarkan umatnya untuk menahan diri dari kebiasaan mencela.
Rasulullah SAW mengajarkan agar seseorang tidak membalas celaan dengan celaan yang serupa. Sebaliknya, seorang muslim dianjurkan untuk tetap bertakwa dan menjaga lisannya.
Bahkan Rasulullah SAW melarang memaki orang yang telah meninggal dunia karena hal itu dapat menyakiti perasaan keluarga yang masih hidup.
Ini menunjukkan betapa Islam sangat menjaga kehormatan dan perasaan sesama manusia.
9. Tidak Mudah Melaknat
Ucapan laknat bukanlah perkara ringan.
Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa ketika seseorang melaknat sesuatu, laknat tersebut akan kembali kepada pengucapnya apabila orang yang dilaknat tidak layak menerima laknat tersebut.
Karena itu, seorang muslim harus berhati-hati dalam mengucapkan kata-kata yang mengandung doa keburukan bagi orang lain.
10. Tidak Berkata Kasar
Sikap lemah lembut merupakan salah satu ciri akhlak Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:
“Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali Imran: 159)
Ayat ini mengajarkan bahwa kelembutan dalam berbicara mampu mendekatkan hati manusia. Sebaliknya, perkataan kasar hanya akan menimbulkan jarak dan permusuhan.
11. Tidak Mengadu Domba (Namimah)
Namimah adalah menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan menimbulkan perselisihan.
Rasulullah SAW pernah menjelaskan tentang dua orang yang sedang diazab di kubur. Salah satu dari mereka mendapatkan azab karena kebiasaannya melakukan namimah atau mengadu domba.
Di era digital, namimah dapat terjadi melalui tangkapan layar percakapan, penyebaran pesan pribadi, atau menyampaikan informasi secara tidak utuh sehingga memicu konflik.
Menjaga Lisan di Era Media Sosial
Tantangan menjaga lisan saat ini jauh lebih besar dibandingkan masa lalu. Jari-jari kita dapat menuliskan ribuan kata setiap hari melalui media sosial, grup percakapan, maupun kolom komentar.
Karena itu, prinsip menjaga lisan juga harus diterapkan dalam dunia digital:
Seorang muslim tidak hanya bertanggung jawab atas apa yang diucapkannya, tetapi juga atas apa yang ditulis dan disebarkannya.
Menjaga lisan merupakan salah satu bentuk akhlak mulia yang harus dimiliki setiap muslim. Lisan yang terjaga akan melahirkan hubungan yang harmonis, memperkuat persaudaraan, serta mendatangkan keberkahan dalam kehidupan.
Sebaliknya, lisan yang tidak terkendali dapat menjadi sumber berbagai dosa, mulai dari dusta, ghibah, fitnah, cacian, hingga adu domba. Oleh karena itu, setiap muslim perlu terus melatih dirinya untuk berbicara baik, berkata jujur, dan memilih diam ketika tidak ada manfaat yang bisa disampaikan.
Pada akhirnya, kualitas seseorang tidak hanya terlihat dari seberapa banyak ia berbicara, tetapi juga dari seberapa baik ia menjaga setiap kata yang keluar dari lisannya.
Wallahu a'lam bish-shawab.