Beberapa minggu lalu, dunia memperingati Hari Buku Sedunia setiap 23 April. Momen itu mengingatkan kita bahwa buku bukan sekadar benda yang tersusun rapi di rak, tetapi jembatan yang menghubungkan seseorang dengan ide, pengalaman, bahkan masa depan.
Di Indonesia, semangat itu berlanjut melalui Hari Buku Nasional yang diperingati setiap 17 Mei. Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan hari berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 17 Mei 1980, dan kemudian ditetapkan sebagai Hari Buku Nasional sejak 2002 untuk mendorong budaya baca masyarakat Indonesia.
Namun ada pertanyaan yang lebih penting dari sekadar mengetahui sejarahnya: setelah sadar pentingnya membaca, lalu apa?
Bagi banyak siswa, membaca sering kali masih dipandang sebagai aktivitas akademik yang “wajib”. Baca buku pelajaran untuk ujian. Baca modul untuk latihan soal. Baca rangkuman agar cepat paham.
Padahal, kalau diperhatikan lebih jauh, siswa yang benar-benar berkembang biasanya punya satu kebiasaan yang tidak terlalu terlihat: mereka akrab dengan bacaan.
Bukan berarti harus selalu membaca buku tebal beratus-ratus halaman. Kadang dimulai dari artikel singkat, biografi tokoh, buku pengembangan diri, novel yang membangun imajinasi, atau bahkan buku sains populer yang membuat materi sekolah terasa lebih hidup.
Di sinilah makna Hari Buku Nasional terasa relevan.
Literasi bukan kompetisi siapa yang membaca paling banyak. Literasi adalah proses membangun kebiasaan berpikir.
Seorang siswa yang terbiasa membaca akan lebih mudah menemukan pola saat mengerjakan soal. Ia tidak cepat panik ketika menemui bacaan panjang di UTBK atau asesmen sekolah. Kosakatanya lebih kaya, daya fokusnya lebih terlatih, dan yang sering terlupakan: rasa ingin tahunya tetap hidup.
Kemampuan akademik memang penting. Tetapi di era informasi yang bergerak sangat cepat, kemampuan belajar mandiri jauh lebih menentukan.
Buku membantu itu.
Melalui buku, siswa belajar bahwa satu persoalan bisa dilihat dari banyak sudut pandang. Bahwa kegagalan adalah bagian dari proses. Bahwa orang-orang hebat yang hari ini terlihat sukses pun pernah memulai dari ketidaktahuan.
Di Bimbel Nurul Fikri, semangat belajar tidak berhenti pada target nilai atau lolos seleksi kampus impian. Ada proses yang lebih mendasar: membentuk karakter pembelajar.
Karena pada akhirnya, siswa yang sukses bukan hanya mereka yang mampu menghafal materi dengan cepat, tetapi yang mampu terus bertumbuh.
Hari Buku Nasional menjadi pengingat sederhana bahwa kemajuan besar sering lahir dari kebiasaan kecil.
Mulai dari 10 halaman sehari.
Mulai dari menyisihkan waktu 15 menit tanpa distraksi.
Mulai dari satu buku yang benar-benar selesai dibaca, bukan lima buku yang hanya dibuka di halaman awal.
Di tengah derasnya konten pendek, scrolling tanpa henti, dan notifikasi yang terus bersaing merebut perhatian, membaca buku terasa seperti tindakan yang tenang - bahkan sedikit melawan arus.
Tapi justru di situ nilainya.
Membaca melatih seseorang untuk tidak selalu bereaksi cepat. Ada proses mencerna, menghubungkan, lalu memahami.
Dan bukankah itu juga yang dibutuhkan dalam belajar?
Banyak soal sulit bukan sulit karena materinya mustahil dipahami. Kadang yang sulit adalah bertahan cukup lama untuk fokus.
Buku melatih ketahanan itu.
Hari Buku Nasional bukan hanya perayaan untuk penulis, penerbit, atau perpustakaan. Ini juga momentum untuk siswa bertanya pada dirinya sendiri: sudahkah saya memberi ruang untuk bertumbuh lewat membaca?
Tidak perlu langsung besar.
Mulailah dari buku yang memang kamu sukai.
Karena kebiasaan membaca yang bertahan lama biasanya lahir bukan dari paksaan, melainkan dari rasa menemukan sesuatu yang bermakna di dalamnya.
Dari satu halaman, satu bab, lalu perlahan menjadi kebiasaan.
Selamat Hari Buku Nasional.
Semoga buku tidak hanya hadir sebagai pelengkap meja belajar, tetapi benar-benar menjadi teman perjalanan menuju versi diri yang lebih baik.
Bimbel Nurul Fikri
Learning today, leading tomorrow.